Penderita Diabetes golongan ekonomi lemah tak perlu khawatir akan
naiknya harga obat-obatan di pasaran. Disekitar kita banyak nian
tumbuhan yang berkhasiat obat antiDiabetes. Menurut data dari berbagai
sumber, di Asia Tenggara sedikitnya ada 45 jenis tanaman, di luar daun
salam penghasil antiDiabetes.
Diantara tumbuhan penghasil antiDiabetes yang sangat akrab dengan
kita adalah bawang merah, daun belimbing wuluh, kankung serta kumis
kucing. Selain itu juga semangka, buah bligo, daun tapak dara, jambu
batu. Semua jenis obat alternatf itu dapat dengan mudah kita peroleh.
Pemanfaatannya bisa dilakukan dengan ditumbuk, dimakan langsung, atau
dengan cara yang lain.
Dari sekian banyak tanaman, Pusat penelitian Antar Universitas Ilmu
Hayati ITB telah melakukan penelitian terhadap 6 jenis tanaman.
Masing-masing adalah sambiloto (Andrographis paniculata), tapak dara (Chataranthus roseus), belimbing wuluh (Averhoa bilimbi), dan biji kelabed (Trigonella foenum-graecum). Secara terpisah, sambiloto dan tapak dara juga telah diteliti di laboratorium penelitian Universitas Negeri Padang.
Satu jenis tanaman yang diteliti memerlukan tiga dosis untuk diuji
coba. Masing-masing dosis memerlukan lima tikus untuk dicoba. Setiap
tikus memerlukan lima kali percobaan.
Pada penelitian lain, setelah berbulan-bulan diteliti, ternyata daun
salam memiliki nilai yang paling bagus sebagai penghasil zat
antiDiabetes. Akhirnya peneliti terfokus pada daun salam yang bisa
dengan mudah didapat.
Sementara itu menurut Dr. Sukrasno, peneliti pada PPAU Ilmu Hayati
ITB, daun stevia memiliki rasa manis 200-300 kali lipat gula sukrosa
(gual pasir) yang kita konsumsi sehari-hari. Beliau ingin mengembangkan
penelitian stevia, karena sangat enak mengobati Diabetes dengan zat
manis yang bisa dicampur minum teh.
Berdasarkan penelitian juga, ternyata tidak semua jenis Diabetes bisa
dilawan dengan zat antiDiabetes dari tumbuhan. Menurut Sukrasno,
Diabetes insipidus tidak bisa diobati dengan zat antiDiabetes dari
tumbuhan. Ini karena Diabetes Insipidus adalah Diabetes yang disebabkan
kelebihan volume urin.
Diabetes Mellitus bisa diobati dengan tetumbuhan tersebut. Penyakit
ini disebabkan kebanyakan kadar gula dalam darah. Menurut Sukrasno,
Diabetes Mellitus ini sedikitnya memilki tiga tipe yang berbeda dan
ketiganya memerlukan pengobatan yang berbeda.
Tipe pertama adalah Insulin Dependent Diabetes Mellitus atau sering
juga disebut Diabetes remaja. Diabetes jenis ini disebabkan rusaknya
sel-sel penghasil insulin. Gejalanya ditandai dengan kekurangan insulin
yang absolut, sehingga satu-satunya pengobatan hanya bisa dilakukan
dengan dengan penyuntikan insulin tiap hari. Tidak dapat mengandalkan
anti diabetes dari tumbuhan.
Tipe kedua adalah non-insulin dependent Diabetes Mellitus. Biasanya
tipe ini dialami oleh orang lanjut usia. Diabetes ini disebabkan tidak
maksimalnya produksi hormon insulin, sehingga diperlukan zat anti
diabetes untuk membantu insulin mengimbangi kadar gula dalam darah.
Jenis inilah yang bisa diobati dengan tetumbuhan.
Tipe ketiga adalah Malnutrition Diabetes Mellitus. Diabetes tipe ini
disebabkan pemenuhan nutrisi yang tidak tepat. Ini bisa jadi karena pola
konsumsi makanan yang tidak tepat, atau bisa juga disebabkan tekanan
darah terlampau tinggi. Pengobatanya dilakukan dengan memperbaiki
konsumsi nutrisi tubuh.
Walau belum dapat bekerja untuk semua Diabetes, hasil penelitian di
atas tetap bermanfaat. Selain memberi alternatif pengobatan yang lebih
murah, temuan tersebut juga menjaga kelestarian hayati di negeri ini.
Setidaknya dari penderita Diabetes yang turut terangsang untuk
melestarikan tumbuhan obat tersebut.
Juwet lebih terkenal sebagai jamu antidiabetes daripada anti ngompol
dan mencret. Diabetes atau kencing manis disebabkan oleh kelebihan kadar
glukosa darah, karena tubuh tidak mampu menghasilkan hormon insulin
yang cukup. Insulin ini bertugas mengubah kelebihan gula dalam darah
menjadi glikogen yang dapat disimpan dalam hati. Tugas darah yang
kelebihan beban ini terganggu. Tugasnya ialah mengangkut oksigen baru
dari luar ke bagian tubuh yang mebutuhkannya, dan mengeluarkan sisa
metabolisme berupa karbondioksida. Badan terasa letih, tenaga kurang dan
kalau luka lama sekali sembuhnya. Keringat dan kencing berbau amis,
karena kelebihan glukosa.
Biji buah juwet mampu mampu menyembuhkan gejala “lama sekali
sembuhnya luka” itu. Ini adalah berkat kerja glukosida Phytomelin‚ dalam
biji juwet, yang mampu mengurangi kerapuhan pembuluh-pembuluh darah
kapiler. Dengan mengkonsumsi phytomelin‚ dari biji juwet, kerapuhan itu
dicegah, dan luka-luka yang ada dapat cepat sembuh.
Kadar glukosa yang tinggi dalam penderita diabetes menyebabkan kadar
kolesterol yang masih rendah dalam darah. Seolah-olah darah sudah
kebanyakan kolesterol, padahal belum banyak. Akibatnya tugas darah
terganggu, sehingga pembangkitan tenaga hasil oksidasi (pembakaran) zat
makanan menjadi energi, macet. Berkuranglah tenaga kita dan lekas letih.
Alpokad juga kaya karbohidrat. Dalam home page avoinvo
disebutkan, makan buah alpokad sangat membantu penderita Diabetes,
karena kebutuhan kalori dapat dipenuhi tanpa harus kawatir terkena
serangan jantung.
Jamu kencing manis:
- 7 biji juwet bawang (atau 15 biji juwet biasa) ditumbuk halus, lalu direbus dalam 2 gelas air. Air rebusan ini diminum sedikit-sedikit. Jumlah yang ada harus dihabiskan sepanjang hari. Boleh diangsur dengan minum 3 kali sehari. Mungkin diperlukan 2-3 hari pemberian jamu ini, dan dihentikan kalau badan sudah segar.
Dengan jamu ini yang diredakan hanya gejala penyakit saja, sedangkan
kekurangan insulin tidak dipulihkannya. Maka disamping jamu juwet ini,
penderita harus mengurangi makanan berglukosa banyak, seperti gula, nasi
dan makanan karbohidrat lainnya.
Ayah dari saudara Andi di Rumah Susun Pulomas Jakarta pernah mencoba obat alternatif setelah hampir frustasi dengan cara modern.
- Caranya cukup dengan melalap mentah lendir daun lidah buaya (Aloe vera) yang didapat dengan mengupasnya.
- Daun teratai benang emas sebanyak 4-12 gram direbus. Air rebusannya diminum untuk obat Diabetes.
Slamet Soeseno, “Juwet Mencegah Ngompol dan Kencing Manis ,” (Trububus 252, Nov. 1990), Yayasan sosial Tani Membangun,
Jakarta. Prof.Hembing WK, “penyembuhan dengan Tanaman Obat, 2002,Komputindo, jkt.

0 komentar:
Posting Komentar